Senin, 02 Oktober 2017

Ayah ..., engkau makhluk seperti apa?

"ayah dengarkanlah aku ingin berjumpa walau hanya dalam mimpi"

Kita semua pastinya udah gak asing lagi mendengar kutipan lagu berjudul "AYAH" karya Rinto Harahap yang dipopulerkan oleh The Mercy's sampai-sampai lagu ini menjadi sangat melegenda, lagu ini sebenarnya hanya salah satu dari sekian banyak lagu yang membahas tentang sosok ayah, sebut saja Titip Rindu Buat Ayah dari Ebiet G. Ade, Ayah dari Koes Plus, Yang Terbaik Bagimu dari Ada Band Feat Gita Gutawa, dan mungkin masih banyak lagi yang belum kita tahu. 

Memang pada umumnya lagu-lagu seperti ini dibuat sedramatis mungkin sampai-sampai pas kita dengar lagunya gak terasa air mata menetes karena terbawa perasaan, bahkan bisa nangis tidak keruan karena merasa bersalah, kangen atau benci sama sosok yang di lagu tersebut, jadi campur aduk perasaannya. Biasanya kekuatan dari lagu-lagu ini ada di liriknya yang begitu menyentuh dan aransemen musiknya yang sederhana tapi mampu membius para pendengarnya. 

Kira-kira pernahkah terlintas di benak kita apa tujuan mereka menciptakan lagu seperti ini? mungkin hanya penciptanya saja yang tahu, tapi kalau menurut saya sepertinya mereka membuat lagu tersebut sebagai bentuk penghargaan/penghormatan kepada sosok sang ayah, yang (mungkin) perannya tidak sebesar Ibu. Tapi di sini saya tidak akan membanding-bandingkan siapa perannya yang paling besar, karena sudah ada tugasnya masing-masing. Idealnya ayah lah yang mencari nafkah, sedangkan ibu yang mengurus rumah tangga (walaupun kenyataannya berbeda), sebenarnya itu tidak jadi masalah yang terpenting ayah dan ibu bertanggung jawab terhadap kebutuhan anak-anaknya baik lahir maupun batin.

Ibu ... wah kalau beliau sudah tidak perlu dipertanyakan lagi jasanya, mulai dari mengandung sekitar 9 bulan (bahkan ada yang sampai 12 bulan), kemudian melahirkan (normal atau sesar tetap saja risikonya antara hidup dan mati), menyusui, menggendong, memandikan, dsb., dst., dll.. 

Ayah? hmm ... jasanya apa saja ya? memang tidak sebanyak ibu tapi tetap saja beliau punya andil yang tidak sedikit namun punya tanggung jawab yang sangat besar di dunia dan akhirat. Di dunia ayah bertanggung jawab terhadap semua kebutuhan anak dan istrinya mulai dari pakaian, makanan, tempat tinggal, pendidikan umum, agama, 
sampai menikahkan anaknya (bagi muslim anak perempuan wajib dapat restu dari ayah selama beliau masih hidup), sedangkan tanggung jawab di akhirat ya pastinya segala yang ayah berikan selama di dunia akan dipertanyakan semuanya, apakah dia menafkahi dengan cara yang halal atau tidak, sudah memberikan ilmu agama yang benar atau tidak dan sebagainya. Semua itu sudah menjadi tanggung jawab seorang ayah sebagai kepala keluarga, maka jangan kaget ketika kamu pulang larut malam ayah masih terjaga hanya untuk menunggu kamu pulang, jangan marah kalau ayah bertanya "kamu darimana?" terus "pergi sama siapa?" jangan kesal kalau ayah sering bertanya latar belakang teman-teman kamu, khususnya kalau kamu adalah perempuan. Ayah tentunya ingin kamu terjaga harkat dan martabatnya dan menjadi wanita yang sholihah, karena wanita sholihah itu adalah sebaik-baiknya perhiasan yang ada di dunia, sehingga dia akan sangat menjaganya. Ketika kamu masih kecil ayah senantiasa bermain bersama, lelah tubuh sehabis bekerja seolah hilang ketika melihatmu, waktu tidurnya berkurang tidak jadi masalah demi keluarga tercinta.

Memang tidak semua sosok ayah ideal seperti itu, ada juga yang dengan sengaja menelantarkan anak istrinya sampai ditinggalkan bertahun-tahun tanpa dinafkahi entah itu karena ia menikah lagi atau sebagainya, bahkan dalam beberapa kasus 
ada ayah yang tega menyetubuhi anak kandungnya sampai hamil, dan yang lebih gila lagi ayah mengajak anaknya untuk melakukan aksi bom bunuh diri, konon menurut si ayah itu adalah jihad (Astagfirullah semoga kita terhindar dari hal seperti itu).
Saya sebagai seorang ayah juga sangat marah dan kecewa dengan kejadian tersebut, seharusnya dia menjadi pelindung bagi istri dan anaknya sehingga terasa aman dan nyaman, bukannya malah menjadi monster bagi keluarganya.
Lalu apakah orang itu masih pantas disebut Ayah? tentu saja, karena ayah adalah gelar bagi seorang pria yang telah mempunyai keturunan dari darah dagingnya sendiri, semua kesalahannya tidak otomatis menghapus sebutan ayah karena tidak ada yang namanya mantan ayah, walaupun perilakunya sangat buruk dia tetaplah seorang ayah yang dalam darahmu mengalir darahnya.

Menjadi ayah bukanlah sebuah beban, menjadi ayah adalah sebuah kehormatan, kebanggaan serta mempunyai prestise tersendiri yang wajib disyukuri karena telah diberikan kepercayaan oleh Tuhan, begitu banyak pasangan suami istri yang sudah lama menikah tapi tidak diberikan keturunan. Di balik semua tanggung jawabnya yang besar itu ada kebanggaan tersendiri ketika sang ayah melihat putra-putrinya beranjak dewasa, baginya itu adalah sebuah kesuksesan, di matanya kalian tetaplah anak-anak kecil yang butuh perlindungan. Ayah memang tidak selalu mengucapkan rasa sayangnya seperti saat kalian kecil, ayah punya caranya sendiri dan kalian pasti bisa merasakannya karena cinta seorang ayah selalu tersembunyi dalam senyum dan hatinya.

Jadi kalau ada pertanyaan ayah ... engkau makhluk seperti apa? bisa jadi dia adalah malaikat pelindungmu, atau bahkan iblis, hanya kalian sendiri yang bisa menjawabnya. Semoga kita senantiasa diberikan atau dijadikan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarga.